KELUARGA BESAR SYEKH ABDUL WAHHAB MENENTANG WAHABIYAH

22 04 2009

Syekh Muhammad Bin Abdul Wahhab adalah seorang anak yang telah mendurhakai bapaknya sendiri yaitu Syekh Abdul Wahhab Bin Sulaiman, seorang ulama bermazhab Hambali yang terkenal, beliau sangat keras menolak ajaran yang dibawa oleh anaknya (Wahhabiyah). Bahkan Syeikh Sulaiman Bin Abdul Wahhab saudara kandungnya pun turut menolak faham Wahhabiyah. Dalam kitabnya yang berjudul as-Sawaiqul-Ilahiyyah Fir-Raddi ‘Alal-Wahhabiyah, Syeikh Sulaiman menolak ajaran Wahhabi yah karena mereka telah berani mentakfir ( menganggap kafir umat Islam yang lain ). Kemudian dalam kitab itu juga beliau turut menolak habis-habisan golongan tersebut dan menghukum mereka sebagai golongan yang JAHIL dan SESAT. Rasulullah bersabda : ”Siapa yang mengkafirkan saudara seagama maka dia telah jatuh kafir atau sebaliknya “.( HR. Muslim ). Wahhabiyah telah mengkafirkan seluruh umat Islam tanpa bukti, maka hukum tersebut kembali kepada mereka.





Tugas Imam sholat bertambah

22 04 2009

“Perkembangan teknologi ternyata pengaruhnya besar juga dalam kehidupan kita. Termasuk dalam urusan sholat pun mengalami sedikit perubahan,” kata seorang santri kepada kawannya.

“Tidak bisa” Bantah kawannya. “Masalah sholat adalah masalah yang qoth’i, gak boleh dirubah-rubah ngikutin perkembangan zaman.”

“Tetapi dalam kenyataannya emang mengalami perubahan kok”. Tegasnya membela diri.

“Aaah tidak.. Mana contohnya ?? Sholat di mana-mana tetap seperti zaman Nabi”.

“Ente-kan udah tahu, kalau selama ini imam shalat hanya menyarankan kepada jamaah untuk merapatkan dan meluruskan barisan sholat. Tetapi sekarang ini tugasnya ber tambah satu, yaitu memerintahkan makmum untuk mematikan HP !!”

“Benar juga ya”. Kawannya-pun mengakui.

Tarawih Diskon

Saat pak Habibie jadi presiden, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana, dengan mengajak seorang “Kiai kampung” dari Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka puasa dan ngobrol seperlunya, Pak Harto nyeletuk : Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal malam kan di sini?”

“Oooh tidak” jawab Gus Dur. “Saya harus segera pergi karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar tinggal di sini, biar ngimami (menjadi imam) salat taraweh”.

Pak Harto manggut-manggut.

“Tapi,” lanjut Gus Dur, “sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu,”

“Klarifikasi apa?” tanya Pak Harto.

“Harus jelas dulu, tarawehnya mau pakai gaya NU lama atau gaya NU baru?”

“Lhooh ? Kalau gaya NU lama bagaimana, dan kalau gaya NU baru bagaimana ?” tanya Pak Harto heran.

“Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Tapi gaya NU baru, diskon 60 persen ( maksudnya, 11 rakaat )!”

Pak Harto cuma tertawa, dan karena tidak terlalu paham. Ia-pun nyeletuk, “Iya deh. Diskon 60 persen pun enggak apa-apa.”

“Tarawih diskon” menjadi 11 rakaat itu adalah taraweh gaya Muhammadiyah. Karena keluarga Pak Harto sendiri disebut orang “hidup dengan gaya Muhammadiyah tapi mati dengan cara NU”. Sebab, Pak Harto sendiri pernah mengaku bahwa semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi berakidah Muhammadiyah), tapi ketika istrinya meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan acara tahlilan (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya), dan ini gayanya NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan tarawih diskon 11 rakaat, Pak Harto dengan senang hati menerima saja.





FITRAH YANG SUCI

22 04 2009

FITRAH  YANG  SUCI

 

Di dalam tubuh kita ini terdapat  2 macam unsur, unsur langit dan unsur bumi. Unsur langit adalah unsur yang mulia dan suci sedangkan unsur bumi hanya unsur yang hina dan rendah. Unsur langit lebih kekal keberadaannya sedangkan unsur bumi hanya sesuatu yang bersifat sementara dan akan hancur binasa dikembalikan ke tempat asalnya. Unsur langit biasa kita kenal dengan rohani dan unsur bumi biasa kita sebut dengan jasmani.

Kedua unsur ini menyatu dan bertemu saat kita berada pada usia 4 bulan didalam rahim ibu kita. Allah-lah yang telah mempertemukan kedua unsur ini sehingga kita dapat hidup dan terlahir ke dalam pentas kehidupan dunia.

Kedua unsur ini saling butuh membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu tanpa jasmani, rohani kita tidak akan mampu beraktifitas dan berinteraksi dengan kehidup an alam dunia. Dan begitu pula sebaliknya tanpa rohani, jasmani kita pun hanya sebuah onggokan bangkai yang tak berguna. Jadi memang begitulah permainan kehidupan dunia yang telah diatur oleh Allah sang maha pencipta alam semesta.

Sebenarnya kita ini adalah bukan fisik jasmani yang dapat terlihat oleh mata, tapi kita yang sebenarnya adalah rohani yang berada di dalam tubuh dan raga kita. Fisik jasmani dicip takan oleh Allah hanya sebagai wadah atau tempat tinggal bagi rohani selama kita berada dalam kehidupan dunia, tapi setelah kita keluar dari kehidupan dunia ini, maka fisik jasmani kita su dah tidak terpakai lagi dan harus dikubur serta dipendam ketem pat asalnya yaitu tanah. Persis seperti kurungan bambu tempat kita memelihara seekor ayam. Rohaniyah kita diibaratkan seperti seekor ayam sedangkan jasmani kita laksana sebuah kandang.

Jadi, badan kita yang tersusun dari kumpulan daging, tulang dan darah ini, hanya sebuah kandang untuk menyimpan rohani. Dan setelah ayamnya diambil, maka kandangnya pun tidak terpakai lagi.

Dan ironisnya, banyak orang yang terlalu memperhatikan kebersihan kandang, tapi ia lupa untuk memperhatikan kebersih an dan kesehatan ayamnya. Atau dengan pengertian lain, ba nyak orang yang sangat memperhatikan kebersihan dan kesehat an badannya dengan melakukan olah raga secara teratur dan makan makanan yang bergizi serta minum suplemen penye imbang kesehatan tubuh, tapi terkadang ia melupakan keber sihan dan kesehatan rohaniyahnya dengan melakukan olah batin melalui zikir, berdo`a dan bertafakkur kepada Allah.  Padahal seharusnya yang lebih diperhatikan adalah ayamnya, dan bukan kandangnya !!

 

Berbeda dengan fisik jasmani yang sifatnya sementara, maka rohaniyah kita adalah satu unsur yang sifatnya kekal abadi. Oleh sebab itulah, sebelum kita terlahir ke pentas kehi dupan dunia, rohaniyah kita telah melewati 2 alam kehidupan, yaitu alam arwah dan alam rahim. Dan demikian pula setelah kita mengakhiri kehidupan di dunia ini, rohaniyah kita pun akan berpindah ke 2 alam yang berikutnya, yaitu alam barzakh dan alam akhirat. Jadi, alam dunia ini adalah alam pertengahan diantara 4 macam alam yang lainnya, bahkan di alam dunia inilah kita dapat menentukan nasib hidup kita untuk kehidupan di alam yang berikutnya.

 

Pada saat kita terlahir ke dalam kehidupan dunia, roha niyah kita terlahir dalam keadaan fitrah yang suci, sesuai dengan isyarat nabi dalam sebuah hadits :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ

Setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah yang suci

فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُـمَجِّسَانِهِ

Maka kedua orang tuanya-lah yang memegang peranan penting dalam menentukan nasib anaknya, apakah ia harus jadi Yahudi, Nasroni atau Majusi penyembah api

 

Oleh sebab itulah, agar kita terlahir ke pentas kehidupan dunia ini dalam keadaan suci dan kita tinggalkan pula kehidupan dunia ini juga dalam keadaan fitrah yang suci, maka kita harus membersihkan 5 macam kekotoran dari dalam kehidupan kita.

Yang pertama : Kita harus bersihkan badan kita dari ber bagai macam kekotoran, kita bersihkan ia dengan air wudhu, kita sucikan ia dengan mandi hadats, atau kita hilangkan ia dari ber bagai jenis najis yang melekat pada badan, pakaian dan tempat ibadah kita.

Yang kedua : Kita bersihkan pula ketujuh anggota badan kita dari perbuatan-perbuatan yang dianggap keji dan kotor oleh agama. Kita bersihkan pandangan mata kita dari melihat sesuatu yang dapat menantang bangkitnya nafsu syahwat kita. Kita cegah pendengaran telinga kita dari suara-suara yang dapat memancing kepada perbuatan-perbuatan durhaka. Kita tahan pembicaraan mulut kita dari perkataan-perkataan yang dapat menyakiti hati orang lain. Kita halangi nafsu makan perut kita dari makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Kita cegah tangan dan kaki kita dari melangkah dan meng ambil sesuatu yang bukan hak milik kita. Dan kita sucikan pula nafsu syahwat farji kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak dihalalkan oleh ajaran agama kita. Dan lain sebagainya.

Lalu yang ketiga : Kita bersihkan pula hati kita dari keangkuhan terhadap sesama. Kita bersihkan jiwa kita dari perasaan iri dan dengki terhadap kesenangan yang didapat oleh orang lain. Kita kosongkan hati kita dari rasa bangga terhadap prestasi amal baik yang telah kita lakukan. Dan kita buang jauh-jauh dari dalam hati kita sikap merasa paling kaya, merasa paling pintar, merasa paling tua, merasa paling berpengalaman dan lain sebagainya.

Yang keempat : Kita ikhlaskan amal dan hati kita dari se suatu yang lain dari mengharapkan pahala dan keridho`an  Allah SWT.  Dan yang kelima : Kita bersihkan harta kekayaan kita da ri kerusakan dan kebinasaan dengan membelanjakannya di jalan jalan kebajikan sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah.

Bila ini kita perhatikan, keluarlah kita dari kehidupan du nia ini dengan fitrah yang suci sebagaimana sucinya fitrah kita saat kita hadir dalam pentas kehidupan dunia ini.





KH Badri Masduqi

22 04 2009

KH Badri Masduqi merupakan ulama kharismatik yang memiliki jangkauan luas dari berbagai bidang kehidupan. Wajar bila KH Tauhidullah Badri mengatakan, bahwa KH Badri Masduqi adalah sosok multidimensi yang memiliki beragam aktivitas mulai dari pengasuh Pondok Badridduja, Dosen Ma’had Aly serta pemimpin Thariqah Tijaniyah di Indonesia. Semasa hidupnya KH. Badri Masduqi rajin mengisi di berbagai forum pengajian, seminar, bahtsul masail hingga menerima tamu dari berbagai masyarakat yang berkunjung ke rumahnya.

Dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1942, KH Badri Masduqi sejak kecil terlihat tanda-tanda keistimewaan. Sejak kecil, ia sudah mulai belajar membaca Al-Quran dengan orang tuanya, Nyai Muyassaroh sekaligus memper oleh didikan yang baik dari kakeknya, Miftahul Arifin yang tinggal di daerah Pamekasan, Madura. Pendidikan formalnya diawali dari Sekolah Rakyat ( SR ) meski hanya sampai kelas IV pada tahun 1950.

Pendidikan informalnya dilakukan melalui pengemba raannya ke berbagai pesantren di Tanah Air. Beberapa pesantren yang pernah ia jelajahi adalah pesantren Zainul Hasan, Probolinggo (1950), Pesantren Bata-Bata, Pamekasan, (1956), Pesantren Sidogiri, Pasuruan ( 1959 ), dan terakhir di Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo (1965).

Di pesantren Bata-Bata, KH Badri Masduqi sering berpuasa dan hapal Alfiyah Ibnu Malik dalam waktu cukup singkat. Tidak heran bila pujian banyak datang kepadanya. Semasa mudanya, ia dikenal sebagai pemuda yang tangguh. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Anshor, Kraksaan, Probolinggo. Saat ter jadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965, ia juga menjadi pelopor anak muda untuk menumpas pemberontakan PKI.

Sebagai seorang kiyai, ia memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan pesantren. Tidak heran bila aktivitas sehari-harinya ia gunakan untuk mengajar, mendidik di pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo. Pada 1975-1977, ia mulai berkiprah di Nahdlatul Ulama (NU). Lalu ditunjuk sebagai Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kraksaan. Selain berjuang di organisasi, ia juga aktif di jajaran Pengurus Wilayah NU Jawa Timur. Pada 1982, misalnya, ia dikenal sebagai motor penggerak tokoh NU: KH Mahrus Ali (Lirboyo, Kediri), KH Kholil (Bangkalan, Madura), KH As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), Kh Ahmad Siddiq dan lain sebagainya.

KH Masduqi juga dikenal sebagai tokoh Muqaddam Tarekat Tijaniyah. Setiap kali tampil di berbagai forum diskusi ilmiah dan seminar, ia seringkali mewacanakan tentang Tarekat Tijaniyah. Bukan hanya itu, berbagai kaset rekaman pun ia lakukan dalam rangka menyebarkan ajaran tarekat Tijaniyah. Meski demikian, ia tidak lantas bertindak konservatif. Ia dikenal sebagai tokoh moderat yang memandang masalah melalui jangkauan pemikiran yang luas. Jelasnya, ia berdiri di atas paham Ahlussunnah wal Jamaah yang menganut setia ajaran Nabi Muhammad beserta sahabatnya.

Ia merupakan sosok alim yang menguasai segudang ilmu pengetahuan, baik pengetahuan tentang agama, penguasaan kitab kuning, penguasaan masalah-masalah hukum, maupun penguasaan bidang pengetahuan umum seperti ketajaman analisa sosial-politiknya. Di hadapan para kiyai lainnya, ia tidak hanya dikenal sebagai ulama yang menguasai model pendidikan dan pengajaran kitab-kitab klasik (salaf), melainkan juga sebagai ulama yang konsentrasi terhadap model pendidikan pesantren modern sebagaimana yang dilakukan terhadap pesantren yang didirikannya, Badridduja.

Pengorbanan yang dilakukannya melalui Pesantren Badridduja amatlah besar bagi umat, bangsa dan negara. Itulah sebabnya, jasa-jasa perjuangannya yang telah dirintis selayaknya dilestarikan dan menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia agar senantiasa meneladani kiprah perjuangan nya yang selalu memperjuangkan kesejahteraan umat.





PERAN TASAWWUF DALAM ISLAMISASI INDONESIA

22 04 2009

Oleh : Dr. Ikzan Badruzzaman

Islamisasi di Indonesia terjadi pada saat tasawuf menjadi corak pemikiran dominan di dunia Islam. Umum nya, sejarawan Indonesia mengemukakan bahwa meskipun Islam telah datang ke Indonesia sejak abad ke-8 M., namun sejak abad ke-13 M. mulai berkembang kelompok-kelompok masyarakat Islam. Hal ini bersamaan dengan periode perkembangan organisasi-organisasi thariqat. Agaknya hal ini yang menyebabkan berkembangnya ajaran tasawwuf dengan organisasi thariqatnya di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sukses dari penyebaran Islam di Indonesia berkat aktivitas para pemimpin thariqat. Tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia adalah islam versi tasawauf

Tasawuf dan thariqat pernah menjadi kekuatan politik di Indonesia. Tasawuf dan thariqat mempunyai peran yang penting memperkuat posisi Islam dalam negara dan masyarakat, serta pengembangan lingkungan masyarakat lebih luas. Beberapa peran itu di antaranya :

1. Peranan sebagai faktor pembentuk dan mode fungsi negara. 2. Sebagai petunjuk beberapa jalan hidup pembangunan masyarakat dan ekonomi, dan 3. Sebagai benteng pertahanan menghadapi kolonialisasi Eropa.

Peran tasaawwuf dan thariqat yang lebih menonjol adalah di bidang politik. Menurut Sartono Kartodirjo, thariqat pada abad ke-19 M., menunjukkan peranan pen ting, berkembang menjadi golongan kebangkitan paling dominan. Walaupun pada mulanya thariqat merupakan gerakan kebangkitan agama, thariqat berangsur menjadi kekuatan politik keagamaan, bahkan menjadi alat paling efektif untuk mengorganisasikan gerakan keagamaan dan doktrinisasi cita-cita kebangkitan bangsa.

Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mem pelajari cara seseorang berada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum orientaalis Barat, menyebutnya sufisme, dan bagi meraka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminologi, istilah kata thariqat berarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatu metode psikologi moral untuk membimbing seseorang me ngenal Tuhan lebih dekat lagi.

Hal yang wajar apabila dalam perkembangan dakwah Islam selanjutnya, tasawwuf dan thariqat mempunyai pengaruh besar dalam berbagai kehidupan sosial, budaya dan pendidikan yang banyak tergambar dalam dinamika dunia pesantren (pondok). Pada umumnya tradisi pesantren bernafaskan sufistik, karena banyak ulama berafiliasi dengan thariqat. Mereka mengajarkan kepada pengikutnya amalan sufistik.

Kondisi semacam ini mempermudah tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi thariqat yang berkem bang di dunia Islam. Di Indonesia banyak sekali thariqat yang berkembang dan tersebar di berbagai daerah. Abubakar Aceh menyebutkan, di Indonesia terdapat sekitar 41 ajaran thariqat. Sedangkan Nahdhatul Ulama (NU) melalui Jam’iyah Thariqat Mu’tabaroh Al-Nahdhiyyah-nya mengatakan, jumlah thariqat di Indonesia yang diakui keabsahannya (mu’tabaroh) sampai saat ini ada 44 thariqat. Hal ini menunjukkan thariqat yang berkembang di Indone sia, bahkan di dunia Islam banyak sekali jumlahnya.

Imam Asy-Sya’rani, dalam Mizan al-Kubra, menyebut kan bahwa jumlah thariqat dalam syari’at Nabi Muhammad saw. terdapat 360 jenis thariqat. Hal ini dimungkinkan karena, sebagaimana akan dilihat nanti, thariqat adalah cara mendekatkan diri kepada Alloh swt., sekaligus merupakan amalan keutamaan (fadho’il al-‘amal) dengan tujuan memperoleh rahmat Alloh swt.

Di antara thariqat-thariqat yang berkembang di Indonesia yang merupakan cabang dari gerakan sufi internasional adalah Thariqat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (470-561 H.), Thariqat Naqsabandiyah didirikan oleh Baha’uddin Naqsaband al-Bukhori (717-791 H.), Thariqat Syaziliyah yang didirikan oleh Abu al-Hasan al-Syazili yang berasal dari Syaziliyah, Tunisia, (w. 686 H.), Thariqat Rifa’iyah yang didirikan oleh Syeh Akhmad al-Rifa’i (W. 578 H.), Thariqat Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi (490-565 H.), dan Thariqat Tijaniyah.

Tijaniyah adalah nama yang dinisbahkan kepada Syekh Abul-Abbas Ahmad Ibn Muhammad at-Tijani yang lahir pada tahun 1150 H., di ‘Ain Madi Aljazair, dari pihak ayahnya keturunan Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib, sedangkan kata At-Tijani diambil dari suku yang bernama Tijanah dari pihak ibu. Syekh Ahmad at-Tijani dikenal di dunia Islam melalui ajaran thariqatnya yang sampai sekarang tersebar di 18 negara di antaranya: Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mauritania, Sinegal, Perancis, Amerika, Cina dan Indonesia.

Tharikat Tijaniyah masuk ke Indonesia pada awal abad ke-20 M., pada masa awal kehadirannya, penyebaran thariqat Tijaniyah terpusat di Cimahi Bandung yang dikembangkan oleh Syekh Usman Dhamiri, di Cirebon dikembangkan dari Pesantren Buntet melalui K.H. Anas dan K.H. Abbas, di Probolinggo Jawa Timur dikembangkan melalui K.H. Khozin Syamsul Mu’in, di Madura oleh K.H. Jauhari Khotib, dan di Garut dikembangkan oleh K.H. Badruzzaman. Sampai sekarang ajaran tarikat Tijaniyah telah berkembang di beberapa provinsi di Indonesia di antaranya: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, NTT, Kalimantan, Lampung dan Sulawesi. Khusus di Jawa Barat tarikat Tijaniyah telah menembus hampir ke seluruh kabupaten.

Ada tiga jenis wirid tarekat Tijaniyah yakni : wirid lazimah, wirid wadzifah, dan wirid hailalah. Secara umum tiga jenis wirid ini mengembangkan metode istigfar, shalawat, dan dzikir. Metode istighfar dimaksudkan untuk membangun kesadaran insaniyah, tentang bahayanya per buatan maksiat yang menimbulkan dosa. Metode shalawat dimaksudkan untuk membangun kesadaran pentingnya memiliki idola (uswatun hasanah) dalam melakukan taqorub kepada Allah swt. Sedangkan metode dzikir membangun saluran langsung dengan rahmat dari Allah swt. @





KEMUNCULAN THORIQOH

22 04 2009

Thariqoh adalah salah satu tradisi keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah paktek kehidupan rohani yang dijadikan rujukan utama oleh para pengamal thariqoh dari generasi ke generasi  sampai kita sekarang.

Lihat saja,  misalnya hadis  yang meriwayatkan bahwa ketika Islam telah berkembang luas dan kaum Muslimin telah memperoleh kemakmuran, sahabat Umar bin Khatab RA. berkunjung ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika dia telah masuk di dalamnya, dia tertegun  melihat isi rumah beliau, yang ada hanyalah sebuah meja dan alasnya hanya sebuah jalinan daun kurma yang kasar, sementara yang tergantung di dinding hanyalah sebuah geriba (tempat air) yang biasa beliau gunakan unuk  berwudlu’. Keharuan muncul di hati Umar RA. yang kemudian tanpa disadari air matanya berlinang. Maka kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya: ”Gerangan apakah yang membuatmu menangis, wahai sahabatku?” Umar pun menjawabnya: “Bagaimana aku tidak menangis, Ya Rasulullah ? hanya seperti ini keadaan yang kudapati di rumah tuan. Tidak ada perkakas dan tidak ada kekayaan kecuali sebuah meja dan sebuah geriba, padahal di tangan tuan telah tergenggam kunci dunia timur dan dunia barat, dan kemakmuran telah melimpah.” Lalu beliau menjawab: “Wahai Umar aku ini adalah Rasul Allah. Aku bukan seorang kaisar dari Romawi dan juga bukan seorang  Kisra dari Persia. Mereka hanyalah mengejar duniawi, sementara aku mengutamakan ukhrawi.”

Suatu hari Malaikat Jibril As. datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. setelah menyampaikan salam dari Allah Swt, dia bertanya: “Ya Muhammad, manakah yang engkau sukai menjadi Nabi yang kaya raya seperti Sulaiman As atau menjadi Nabi yang papa seperti Ayub As?” Beliau menjawab: ”Aku lebih suka kenyang sehari dan lapar sehari. Disaat kenyang, aku bisa bersyukur kepada Allah Swt dan disana lapar aku bisa  bersabar dengan ujian Allah Swt.”

Bahkan suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada  sahabatnya: ”Bagaimana sikap kalian, jika sekiranya kelak telah terbuka untuk kalian kekayaan Romawi dan Persia?” Di antara sahabatnya ada yang segera manjawab: ”Kami akan tetap teguh memegang agama, ya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Tetapi beliau segera menukas: ”Pada saat itu kalian akan berkelahi sesama kalian. Dan kalian akan berpecah belah, sebagian kalian akan bermusuhan dengan sebagian yang lainnya. Jumlah kalian banyak tetapi kalian lemah, laksana buih di lautan. Kalian akan hancur lebur seperti kayu di makan anai-anai! ”Para sahabat penasaran, lalu bertanya: ”Mengapa bisa begitu ya Rasulullah.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menjawabnya: ”Karena pada itu hati kalian telah terpaut dengan duniawi (materi) dan aku menghadapi kematian.” Di kesempatan lain beliau juga menegaskan: ”Harta benda dan kemegahan  pangkat akan menimbulkan fitnah di antara kalian!”

Apa yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut bukanlah ramalan, karena beliau pantang untuk meramal. Tetapi adalah suatu ikhbar  bil mughayyabat (peringatan) kepada umatnya agar benar-benar  waspada terhadap godaan dan tipu daya dunia.

Sepeninggal Nabi pun, ternyata apa yang beliau sabdakan itu menjadi kenyataan. Fitnah yang sangat besar terjadii di separoh terakhir masa pemerintahan Khulafaurrasyidin. Dan lebih hebat lagi terjadi di zaman Daulah Bani Umayyah, dimana sistem pemerintahan telah mirip dengan  kerajaan. Penguasa memiliki kekuasaan yang tak terbatas, yang cenderung lebih mengutamakan kepentingan pribadi mereka, keluarga atau kelompoknya dan mengalahkan kepentingan rakyat kebanyakan. Dan akhirnya berujung pada munculnya pemberontakan yang digerakkan oleh golongan Khawarij, Syiah,dan Zuhhad.

Hanya saja ada perbedaan diantara mereka. Kedua golongan yang pertama memberontak dengan motifasi politik, yakni untuk merebut kekuasaan dan jabatan, sementara golongan terakhir untuk mengingatkan  para penguasa agar kembali kepada ajaran Islam dan memakmurkan kehidupan rohani, serta untuk menumbuhkan keadilan yang merata bagi warga masyarakat. Mereka berpendapat bahwa kehidupan rohani yang terjaga dan terpelihara dengan baik akan dapat memadamkan api fitnah, iri dengki dan dendam.

Meskipun  saat itu Daulat Bani Umayyah merupakan pemerintahan yang terbesar di dunia, dengan wilayah kekuasaan yang terbentang dari  daratan Asia dan Afrika di bagian timur sampai daratan Spanyol Eropa di bagian barat, pada akhinya mengalami kehancuran. Pengalaman dan nasib yang sama juga dialami oleh Daulah Bani Abasiyah. Meskipun saat itu jumlah umat Muslim sangat banyak dan kekuasaan mereka sangat besar, tetapi hanya laksana buih di lautan atau kayu yang dimakan anai-anai, sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Semua itu dikarenakan fakor hubb al-dunya (cinta dunia) dan karahiyat al-maut (takut menghadapi kematian). Sebab yang tampak makmur hanya kehidupan lahiriyah/duniawi, sementara kehidupan rohani/batiniyah mereka mengalami kegersangan. Inilah yang menjadi motifasi golongan Zuhhad.

Golongan Zuhhad inilah yang menjadi fokus pembahasan dalam penulisan buku ini, karena gerakan-gerakannya mengajak kembali kepada ajaran Islam yang benar dan mendekatkan diri pada Allah ‘Azza wa jalla.

Gerakan yang muncul di akhir abad per enam hijriyyah ini, pada mulanya meupakan kegiaan sebagian  kaum Muslimin yang semata-mata berusaha mengendalikan jiwa mereka dan menempuh cara hidup untuk mencapai ridla Allah Swt, agar idak terpengaruh dan terpedaya oleh tipuan dan godaan duniawi (materi). Karenayna, pada saa itu mereka lebih dikenal dengan sebutan “zuhhad” (orang- orang yang berperilaku zuhud), ”nussak” (orang-orang yang berusaha melakukan segala ajaran agama) atau “Ubbad” (orang yang rajin  melaksanakan ibadah).

Lama kelamaan cara kehidupan rohani yang mereka tempuh, kemudian berkembang menjadi alat unuk mencapai tujuan yang lebih murni, bahkan lebih mendalam yaitu berkehendak mencapai hakekat  ketuhanan dan ma’rifat (mengenal) kepeda Allah yang sebenar-benarnya, melalui riyadlah (laku pihatin), mujahadah (perjuangan batin yang sungguh-sungguh), mukasyafah (tersingkapna tabir antara diriyna dan Allah), musyahadah (penyaksian terhadap keberadaan Allah). Atau dengan istilah lain, laku batin yang mereka tempuh di mulai dengan “takhalli” yaitu mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela, lalu “tahalli”, yaitu menghiasi hati dengan sifat yang terpuji, lalu “tajalli” yaitu mendapatkan pencerahan dari Allah Swt. Tata caa kehidupan rohani tersebut kemudian tumbuh berkembang di kalangan masarakat Muslim, yang akhirnya menjadi disiplin keilmuan tersendiri, yang dikenal dengan ilmu “Tashawuf.”

Sejak munculyna Tashawuf Islam di akhir abad kedua hijriyah, sebagai kelanjutan dari gerakan golongan Zuhhad, muncullah istilah “Thariqoh” yang tampilan bentuknya berbeda dan sedikit demi sedikit menunjuk pada suatu yang tertentu, yaitu sekumpulan akidah-akidah, akhlaq-akhlaq dan aturan-aturan tertentu bagi kaum Sufi. Pada saat itu disebut “Thariqoh Shufiyyah” (metode orang-orang Sufi) menjadi penyeimbang terhadap sebutan “Thariqoh Arbabil Aql wal Fikr” (metode orang-orang yang menggunakan akal dan pikiran. Yang pertama lebih menekankan pada  dzauq (rasa), sementara yang kedua lebih menekankan pada burhan (bukti nyata/empiris). Isilah “thariqoh“ terkadang digunakan untuk menyebut suatu pembibingan pribadi dan perilaku yang dilakukan oleh seorang mursyid kepada muridyna. Pengertian terakhir inilah yang lebih banyak difahami oleh banyak kalangan, ketika mendengarkan kata “thariqoh.”

Pada perkembangan berikutyna, terjadi perbedaan diantara tokoh Sufi di dalam menggunakan metode laku batin mereka untuk menggapai tujuan utamanya, yaitu Allah Swt dan ridlanya. Ada yang menggunakan metode latihan-latihan jiwa, dari tingkat terendah, yaitu  nafsu ammarah, ke tingkat  nafsu lawwamah, terus ke nafsu muthmainah, lalu ke nafsu  mulhamah, kemudian  ke tingkat nafsu radliyah, lalu ke nafsu mardliyyah, sampai ke nafsu kamaliyyah. Ada juga yang mengguanakan metode takhalli, tahalli dan akhirnya tajalli. Ada pula yang menggunakan metode dzikir, yaitu dengan cara mulazamatudz-dzikri, yakni melanggengkan dzikir dan senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apapun.

Dari perbedaan metode itulah, akhirnya muncul aliran-aliran thariqoh yang mengambil nama dari tokoh-tokoh sentral aliran tersebut, seperti Qodiriyah, Rifa’iyyah, Syadzaliyyah, Dasuqiyyah/Barahamiyyah, Zainiyyah, Tijaniyyah, Naqsabandiyyah, dan lain sebagainya.

SUMBER :

http://thoriqoh-indonesia.org/





Tentang Hukum Merokok

22 04 2009

Sekitar 400 tahun yang lalu, rokok dikenal dan membudaya di berbagai belahan dunia Islam. Sejak itulah sampai sekarang hukum rokok gencar dibahas oleh para ulama di berbagai negeri, baik secara kolektif maupun pribadi. Perbedaan pendapat di antara mereka mengenai hukum rokok tidak dapat dihindari dan berakhir kontroversi. Itulah keragaman pendapat yang merupakan fatwa-fatwa yang selama ini telah banyak terbukukan. Sebagian di antara mereka menfatwakan mubah alias boleh, sebagian berfatwa makruh, sedangkan lainnya lebih cenderung men fatwakan haram.

Kontroversi Hukum Merokok

Seandainya muncul fatwa, bahwa korupsi itu hukumnya haram, karena termasuk tindak sariqah (pencurian), maka semua orang akan setuju, termasuk koruptor itu sendiri. Akan tetapi persoalannya akan lain ketika merokok itu dihukumi haram. Akan muncul pro dari pihak tertentu dan muncul pula kontra serta penolakan dari pihak-pihak yang tidak sepaham. Dalam tinjauan fiqh terdapat beberapa kemungkinan pendapat dengan berbagai argumen yang bertolak belakang.

Pada dasarnya terdapat nash bersifat umum yang menjadi patokan hukum, yakni sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai berikut:

وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ. البقرة 195

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Baqarah: 195)

عن ابن عباس قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ. )رواه ابن ماجه الرقم 2331(


Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata ; Rasulullah SAW. bersabda: Tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri sendiri), dan tidak boleh berbuat kemudaratan (pada diri orang lain). (HR. Ibnu Majah, No.2331)

Bertolak dari kedua nash di atas, ulama’ sepakat mengenai segala sesuatu yang membawa mudarat adalah haram. Akan tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah merokok itu membawa mudarat atau tidak, dan terdapat pula manfaat atau tidak. Dalam hal ini tercetus persepsi yang berbeda dalam meneliti dan mencermati substansi rokok dari aspek kemaslahatan dan kemafsadatannya. Perbedaan persepsi ini merupakan babak baru munculnya beberapa pendapat mengenai hukum merokok dengan berbagai argumennya masing-masing.

Seandainya semua sepakat, bahwa merokok tidak membawa mudarat atau membawa mudarat tetapi relatif kecil, maka semua akan sepakat dengan hukum mubah atau makruh. Demikian pula seandainya semuanya sepakat, bahwa merokok membawa mudarat besar, maka akan sepakat pula dengan hukum haram. Dari pendapat tersebut beserta argumennya, maka dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam hukum.

Pertama ; hukum merokok adalah mubah atau boleh karena rokok dipandang tidak membawa mudarat. Secara tegas dapat dinyatakan, bahwa hakikat rokok bukanlah benda yang memabukkan.

Kedua ; hukum merokok adalah makruh karena rokok membawa mudarat relatif kecil yang tidak signifikan untuk dijadikan dasar hukum haram.

Ketiga ; hukum merokok adalah haram karena rokok secara mutlak dipandang membawa banyak mudarat. Berdasarkan informasi mengenai hasil penelitian medis, bahwa rokok dapat menyebabkan berbagai macam penyakit dalam, seperti kanker, paru-paru, jantung dan lainnya setelah sekian lama membiasakannya.

Tiga pendapat di atas dapat berlaku secara general, dalam arti mubah, makruh dan haram itu bagi siapa pun orangnya. Namun bisa juga ketiga hukum tersebut berlaku secara personal, dengan pengertian setiap person akan terkena hukum yang berbeda sesuai dengan apa yang diakibatkannya, baik terkait kondisi personnya atau kwantitas yang dikonsumsinya. Tiga tingkatan hukum merokok tersebut, baik bersifat general maupun personal terangkum dalam paparan panjang ‘Abdur Rahman ibn Muhammad ibn Husain ibn ‘Umar Ba’alawiy di dalam Bughyatul Mustarsyidin (hal.260) sebagai berikut :

لـم يرد فـي التنباك حديث عنه ولا أثر عن أحد من السلف ……. والذي يظهر أنه إن عرض له ما يـحرمه بالنسبة لـمن يضره فـي عقله أو بدنه فحرام، كما يـحرم العسل على الـمحرور والطين لـمن يضره، وقد يعرض له ما يبيحه بل يصيره مسنوناً، كما إذا استعمل للتداوي بقول ثقة أو تـجربة نفسه بأنه دواء للعلة التـي شرب لـها، كالتداوي بالنجاسة غير صرف الـخمر، وحيث خلا عن تلك العوارض فهو مكروه، إذ الـخلاف القوي فـي الـحرمة يفيد الكراهة.


Tidak ada hadits mengenai tembakau dan tidak ada atsar (ucapan dan tindakan) dari seorang pun di antara para shahabat Nabi SAW. … Jelasnya, jika terdapat unsur-unsur yang membawa mudarat bagi seseorang pada akal atau badannya, maka hukumnya adalah haram sebagaimana madu itu haram bagi orang yang sedang sakit demam, dan lumpur itu haram bila membawa mudarat bagi seseorang. Namun kadangkala terdapat unsur-unsur yang mubah tetapi berubah menjadi sunnah sebagaimana bila sesuatu yang mubah itu dimaksudkan untuk pengobatan berdasarkan keterangan dari dokter yang terpercaya atau pengalaman dirinya bahwa sesuatu itu dapat menjadi obat untuk penyakit yang diderita sebagaimana berobat dengan benda najis selain khamr. Sekiranya terbebas dari unsur-unsur haram dan mubah, maka hukumnya makruh karena bila terdapat unsur-unsur yang bertolak belakang dengan unsur-unsur haram itu dapat difahami makruh hukumnya.

Senada dengan sepotong paparan di atas, apa yang telah diuraikan oleh Mahmud Syaltut di dalam Al-Fatawa (hal.383-384) sebagai berikut :

إن التبغ ….. فحكم بعضهم بـحله نظرا إلـى أنه ليس مسكرا ولا من شأنه أن يسكر ونظرا إلـى أنه ليس ضارا لكل من يتناوله, والأصل فـي مثله أن يكون حلالا ولكن تطرأ فيه الـحرمة بالنسبة فقط لـمن يضره ويتأثر به. …. وحكم بعض أخر بـحرمته أوكراهته نظرا إلـى ما عرف عنه من أنه يـحدث ضعفا فى صحة شاربه يفقده شهوة الطعام ويعرض أجهزته الـحيوية أو أكثرها للخلل والإضطراب.


Tentang tembakau … sebagian ulama menghukumi halal karena memandang bahwasanya tembakau tidaklah memabukkan, dan hakikatnya bukanlah benda yang memabukkan, disamping itu juga tidak membawa mudarat bagi setiap orang yang mengkonsumsi. …Pada dasarnya semisal tembakau adalah halal, tetapi bisa jadi haram bagi orang yang memungkinkan terkena mudarat dan dampak negatifnya. Sedangkan sebagian ulama’ lainnya menghukumi haram atau makruh karena memandang tembakau dapat mengurangi kesehatan, nafsu makan, dan menyebabkan organ-organ penting terjadi infeksi serta kurang stabil.

Demikian pula apa yang telah dijelaskan oleh Prof Dr Wahbah Az-Zuhailiy di dalam Al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuh (Cet. III, Jilid 6, hal. 166-167), sebagai berikut:

القهوة والدخان : سئل صاحب العباب الشافعي عن القهوة، فأجاب : للوسائل حكم الـمقاصد فإن قصدت للإعانة على قربة كانت قربة أو مباح فمباحة أو مكروه فمكروهة أو حرام فمحرمة وأيده بعض الـحنابلة على هذا التفضيل. وقال الشيخ مرعي بن يوسف الـحنبلي صاحب غاية الـمنتهى : ويتجه حل شرب الدخان والقهوة والأولـى لكل ذي مروءة تركهما.


Masalah kopi dan rokok;

Penyusun kitab Al-’Ubab dari madzhab Asy-Syafi’i ditanya mengenai kopi, lalu ia menjawab : Kopi itu sarana hukum, setiap sarana itu sesuai dengan tujuannnya. Jika sarana itu dimaksudkan untuk ibadah maka menjadi ibadah, untuk yang mubah maka menjadi mubah, untuk yang makruh maka menjadi makruh, atau haram maka menjadi haram. Hal ini dikuatkan oleh sebagian ulama’ dari madzhab Hanbaliy terkait penetapan tingkatan hukum ini. Syaikh Mar’i ibn Yusuf dari madzhab Hanbaliy, penyusun kitab Ghayah al-Muntaha mengatakan : Jawaban tersebut mengarah pada rokok dan kopi itu hukumnya mubah, tetapi bagi orang yang santun adalah lebih utama meninggalkan keduanya.

Wallohu a”lam








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.