ABI NAJWA

16 02 2009

Manusia yang terbaik adalah mereka yang mau mengenali siapa dirinya. Hamba yang terbaik adalah mereka yang pasrah dan patuh terhadap aturan Tuhannya.   Kawan yang terbaik adalah mereka yang mau berkorban untuk kebahagiaan saudaranya.  Ayah ibu yang terbaik adalah mereka yang mengabdikan karyanya untuk kebahagiaan anak-anaknya, sedangkan Anak yang terbaik adalah mereka yang selalu menghargai hasil jerih payah orang tuanya.  Guru yang terbaik adalah mereka yang berhati ikhlas dalam membimbing anak didiknya,  sedangkan Murid yang terbaik adalah mereka yang mencintai gurunya lebih dari segalanya.

MENCUMBUI TUHAN

Wajah Tuhan,  ku peluk sesaat.  Ketika ku coba merayu-Nya dalam sujud.  Terasa benar sombong-Nya.  Jelas benar angkuh-Nya.  Berkibar deras di seluruh dinding pembuluh.  Ku coba  merayu-Nya lewat tangisan.  Tapi tidak bisa !.  Dia terlalu cantik untuk ditangisi.  Ku coba lagi lewat senyuman.  Tetap tidak bisa !.  Dia terlalu jantan untuk dirayu.

Akhirnya …..  ku tatap wajah Tuhan yang perlahan memutih.  Ku cumbui jemari tangan-Nya yang lembut.  Tuhan …  izinkan daku untuk menyatu.

MENAPAKI JALAN TUHAN

Aku bersandar di sehelai benang, menunggui langit.  Dadaku mulai terasa sesak bersimbah bebatuan.  Ku coba menapaki jalanan Tuhan.  Yang ku peroleh dari al-Kitab.  Ku punguti rangkaian kata, mulai alif sampai yaa.  Kata orang tua, menapaki jalanan Tuhan sangat sulit.  Bak memegang sepecah bara api.  Dipegang erat ?  Urat terasa putus menahan panas.  Dilepas ….. ?  Dibuang ….. ?  Kata orang tua, menapaki jalanan Tuhan memang sangat suli t  …. !

Aku mulai bersandar lagi di sehelai langit, menunggui benang.  Bebatuan segar berhamburan dari dadaku.  Tuhan mencoba menapaki jalananku .  Yang Dia gores dalam al-Kitab.  Dia menebar rangkaian kata, mulai yaa sampai alif.

Tuhan.  Aku tak ingin mendua-i-Mu

SENJA

Dunia mengunci rapat lewati gelap.  Setelah lembayung mengarak perginya mentari ke arah senja.  Dedaunan sujud bersamaan.  Menggelap …..  Menghitam …..  Menyambut gema ilahi menggiring malam.  Air di sungai beriak sejak kemarin.  Seolah peduli dengan perubahan.

Hamba-hamba Tuhan mulai melipat.  Setelah seharian mengais ma’isyah.  Tuk menyambung tali nafas kehidupan yang memang telah rapuh.

Orang-orang kaya mendengkur berirama.  Terlentang …..  Telanjang ….. !!  Dengan perut menganga tak kuat di isi lagi.  Orang miskin melipat lutut.  Tengkurap ….  Telanjang ….. ?  Menanti hari esok yang mungkin tak ada.

Di sudut malam.  Seorang hamba Tuhan terjaga.  Menunggu harapan menjelang fajar menuju senja.

PAYAH

Seorang lelaki muda tersungkur payah.   Di depannya sebuah sajadah lusuh.  Basah bersimbah air mata dan keringat.  Disibaknya tirai keagungan.  Dia ingin mencari sinar.

Sinar itu dipandangnya tanpa kejap.  Dia tersungkur lagi.  Seolah telah menyatu oleh rindu yang menggebu.  Ditepisnya ……  Tidak bisa !!  Dia terlalu payah dan lelah.  Payah menggapai sinar.

KETIKA REMBULAN HALANGI MENTARI

Ketika senja menarik diri ke peraduan langit.  Seorang hamba Tuhan menepis peluh di keningnya yang sedikit basah.  Dia mencoba menatap diri dalam gelap yang telah larut dalam genangan lumpur.  Hanya tangis yang dapat ia persembahkan, juga sujud.

Bayangan masa hitam mengarak lambat di sudut matanya yang sudah semakin berkerut.  Di raih dan di dekapnya kenangan itu.  Seolah ia ingin membawanya kepada Tuhan.  Tuhan …..  Sejuta maaf cuma harapan.  Malu nian hamba bersujud.  Setelah berenang terlalu jauh dan tersesat.  Mengukir amalan yang tak Kau harapkan.

Tuhan …..  Di keheningan malam ini ku bersimpuh.  Menatap diri-Mu dengan kedua tangan terbuka.  Ku sujudi  telapak agung-Mu.  Ku cumbui tangan kasih-Mu.  Ku persembahkan amalan murah ini.  Agar ridho-Mu mengayomi-ku.

MAHLIGAI DANUR-DANUR

Kuburan …..

Akhir persinggahan dari sebuah tirani.  Jiwa ini akan terbelalak, setelah sepanjang gelap dipejamkan.  Kebanggaan hanya milik belatung, yang menanti seporsi daging segar.  Batu nisan kini jadi perhatian, yang setahun lalu mungkin ditertawakan.

Siapa saya ?  Dulu dipanggungkan. Tapi kini diinjak dan dihimpit.  Terperangah.  Bisik-bisik itu adalah kita semua.

Danur-danur yang dulu bertandang, di pintu rumah, di jendela kamar, bahkan di kamarnya tuan.  Sejuta rasa dalam kesepian. Yang waktu ini begitu dibutuhkan.  Orientasi-mu adalah tanah, bukan arak-arakan.  Tak perlu kau kenali memang sudah terulur sendiri.  Pelan menggapai sesuai waktu.

Bisik-bisik pelan itu adalah kita semua.  Untuk generasi yang sangat padat dengan rencana.  Mataku rasanya melemah.  Ku ingin rasanya bercerita sebelum tidur.  Tentang mahligai danur-danur.  Dan danur-danur yang mengisi mahligai.

Sekarang !

KIPAS-KIPAS HARAPAN

Lorong sempit yang sarat akan nuansa.  Percikan lalat yang mengotorinya setiap pagi.  Adakah hari untuk menatap ? …..  Setelah dihimpit oleh kesempatan yang semu ? ….

Badai yang memanjang.   Dikupas satu persatu.  Menanti bekas luka di rambut yang licin tersisir rapi.  Menanti harapan dari penguasa zholim yang impoten.  Menanti cahaya sinar dari kyai yang terbangun menangis.  Di saat Tuhan membuka jemari-Nya.

Ku tunggui malam panjang bersama Sumarjo.  Setengah gelas bandrek panas ku sruput tandas.  Gundiknya tertawa lebar.  Dengan gigi kuning yang tersusun rapi.  Dia menebar cerita duka.

Tentang negara bersih.  Tentang kerja setengah rodi.  Tentang sorga yang berdasi.  Tentang rumah kardus.  Di atas kardus.  Di dalam kardus  …….   Sampai pagi.

PENANTIAN PANJANG

Panjenangan.

Mohon ajari hamba berdusta.  Tentang senja di atas bendera.  Tentang rumput yang ditiduri dengan paksa.  Tentang tembakau yang di isap baranya.

Tapa-Mu telah lama,  panjenangan.  Sejak mentari mencumbui senja.  Sejak bunda meneteki si kaya.  Sejak bumi menggagahi langit.   Lautan misteri-Mu menapaki jarum-jarum.  Sepekan hamba tengkurap.  Meniti rambut kotor yang di kepang lima.  Hamba hendak mencari Hud-hud.  Milik Solomon yang kaya.

Cerita di  langit masih panjang,  melewati keadilan dari kutu-kutu yang berpesta di ketiak  Stalin.

Panjenangan.

Hamba tatap langit mulai bergaris.  Lalat-lalat pemakan bangkai mulai berbaris.  Berbanjar memanjang di tepi bingkai maut-Mu.  Salam untuk-Mu panjenangan. Bendera sudah dipasang setengah tiang.  Kapal Nuh sudah lama berlabuh.

Kapan panjenangan datang ?   Ku tunggu.

HAMBA TUHAN

Hamba Tuhan bukanlah hamba manusia.  Kekasih Tuhan bukanlah kekasih manusia.  Ia sembunyi dikala ramai.  Ia ada di saat sepi.

Orang tidak mencari, dimana dia ? …..   Orang-pun tidak mengenal, siapa dia ? ……  Orang tidak bertanya di kala ada.  Orang-pun tidak menyapa saat bersua.

Hamba Tuhan menangis  di tepi malam.  Bukan larut dalam nestapa,  tapi suka hati yang tak dapat dipendam.  Hidup dunia bukanlah tujuan.  Hanya naungan tempat ia berteduh.  Air matanya bergulir penuh kerinduan.  Rindu dendam yang tak tertahankan.

Ia belajar menangis pada gelapnya malam.  Di saat mereka,  memilih manusia sebagai teman. Ia memilih Dia untuk mengisi malam.  Ramai rasa di hatinya.  Di jantungnya-pun riang dalam senyuman.  Dia gembira menatap Dia.  Yang tersenyum di balik hijab kelabu.

Hamba Tuhan, hanya menikmati pesta dalam kesendirian.

MEMELUK  BAYANGAN

Kawan.   Bangsa ini sudah lama terpejam.  Jangan kau tambah lagi dengan kebutaan.   Kau akan terasa lelah menuntunnya.  Dan kita-pun akan kehabisan akal untuk menasehatinya. Peluklah dia.  Rangkullah dia.  Karena ia butuh suasana yang hangat.  Setelah sekian lama di telanjangi.

Kawan.   Bangsa ini sudah lama kita telusuri.  Banyak sudah anak bangsa yang tersesat.  Banyak sudah kerugian yang kita tanggung.  Jangan kau bebani lagi dengan kebohongan.  Kau akan semakin jauh dari harapan.  Tuntun dia.  Ajari dia kebenaran.  Karena ia butuh nasehat.  Setelah sekian lama ditinggalkan.

Kawan.   Mari kita duduk melingkar.

KATA-KATA  MUTIARA

Keikhlasan itu ibarat sebuah tunas pohon,  yang diperkuat oleh akar iman yang kokoh.  Bila tunasnya baik,  baik pula buahnya.  Bila tunasnya buruk,  buruk pula buahnya.

Mengapa kebanyakan orang berteriak setuju,  bila ada orang menjalin asmara dengan lawan jenisnya.   Tapi mereka akan berteriak tidak setuju, bila ada orang menjalin asmara dengan Tuhannya.

Sholawat yang dibaca oleh kaum muslimin,  adalah untuk menandingi sumpah serapah dan celaan dari kaum kafir yang membenci Rosulullah SAW.  Oleh sebab itu perbanyaklah membaca sholawat kepadanya,  agar dapat meredakan murka Tuhannya.

Sesungguhnya, nikmat itu baru akan dirasakan oleh pemiliknya, bila nikmat itu sudah tidak ada lagi dari dirinya.

Semangat menuntut ilmu dari umat Islam di zaman sekarang ini telah menurun.  Dulu,  mereka mendatangi para ulama bagaikan sekelompok orang mengambil air di sumur.  Tapi  sekarang,  ulama mendatangi mereka bagaikan penjual air yang mendatangi rumah-rumah.

Ketakutan para pejabat pemerintah terhadap tegaknya hukum Islam,  disebabkan karena mereka khawatir bahwa dosa dan kesalahan mereka akan segera terbuka dan tersingkap.

Cintailah saudaramu seagama,  walaupun kulitnya hitam bagai pantat kuali.

Muslim yang baik adalah muslim yang lebih banyak amalnya dari pada perkataannya.

Perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak beragama,  hanya sebuah permainan dari pelampiasan stres dan frustasi akibat peradaban bebas yang telah mereka capai selama ini.   Emansipasi !   Modernisasi  !  keduanya adalah faham jahiliyah yang terulang.  Bahkan justru akan menjadikan sebuah keluarga diambang kehancuran.

Sesungguhnya perjudian, mabuk mabukan, pemerkosaan, perzinaan, dan semua tindak kebejatan moral, akan selalu hadir di negara yang berlandaskan hukum ini,  selama hukum yang berlaku  tidak pernah berhasil mendidik manusianya.

Tidak ada kemiskinan yang lebih merusak dari pada kebodohan.  Tidak ada harta yang lebih berharga dari pada akal.  Tidak ada kesepian yang lebih mencekam dari pada bangga terhadap diri sendiri.  Tidak ada kekuatan yang lebih kokoh dari pada musyawaroh.  Tidak ada keimanan yang lebih tangguh dari pada keyakinan.  Tidak ada waro yang lebih sempurna dari pada menahan keinginan.  Tidak ada keindahan yang lebih mempesona dari pada budi pekerti.  Tidak ada ibadah yang lebih mahal dari pada tafakkur.  ( Saidina Ali bin Abi Tholib ra )

PANDANGAN DARI BERBAGAI AGAMA DAN PERADABAN DUNIA TENTANG WANITA

Yunani kuno :  Wanita sebagai sumber kehancuran moral.

China :  Wanita diibaratkan sebuah sungai yang di dalamnya penuh dengan rahasia yang membahayakan kehidupan.

Hindu :  Wanita adalah makhluk yang penuh dengan dosa dan sumber malapetaka.

Budha :  Wanita adalah pembohong dan pengacau.

Yahudi :  Wanita adalah perhiasan dan pelampiasan nafsu sex kaum lelaki saja.

Nasroni :  Wanita adalah makhluk yang menjijikkan.

Islam :  Wanita adalah pusat pendidikan bagi umat ini.  Perhiasan yang paling baik adalah istri yang sholehah.  Surga itu di bawah telapak kaki kaum ibu.  Wanita adalah tiang sebuah negara, jika mereka baik maka akan majulah negara, tapi jika mereka rusak maka hancurlah negara.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: