Tugas Imam sholat bertambah

22 04 2009

“Perkembangan teknologi ternyata pengaruhnya besar juga dalam kehidupan kita. Termasuk dalam urusan sholat pun mengalami sedikit perubahan,” kata seorang santri kepada kawannya.

“Tidak bisa” Bantah kawannya. “Masalah sholat adalah masalah yang qoth’i, gak boleh dirubah-rubah ngikutin perkembangan zaman.”

“Tetapi dalam kenyataannya emang mengalami perubahan kok”. Tegasnya membela diri.

“Aaah tidak.. Mana contohnya ?? Sholat di mana-mana tetap seperti zaman Nabi”.

“Ente-kan udah tahu, kalau selama ini imam shalat hanya menyarankan kepada jamaah untuk merapatkan dan meluruskan barisan sholat. Tetapi sekarang ini tugasnya ber tambah satu, yaitu memerintahkan makmum untuk mematikan HP !!”

“Benar juga ya”. Kawannya-pun mengakui.

Tarawih Diskon

Saat pak Habibie jadi presiden, Gus Dur pernah mampir ke rumah Pak Harto di Cendana, dengan mengajak seorang “Kiai kampung” dari Lampung Tengah. Waktu itu bulan puasa.

Setelah berbuka puasa dan ngobrol seperlunya, Pak Harto nyeletuk : Gus Dur dan Pak Kiai ini bakal malam kan di sini?”

“Oooh tidak” jawab Gus Dur. “Saya harus segera pergi karena ada janji dengan Gus Joyo, adik Sri Sultan Hamengkubuwono X. Tapi Pak Kiai ini biar tinggal di sini, biar ngimami (menjadi imam) salat taraweh”.

Pak Harto manggut-manggut.

“Tapi,” lanjut Gus Dur, “sebelumnya perlu ada klarifikasi dulu,”

“Klarifikasi apa?” tanya Pak Harto.

“Harus jelas dulu, tarawehnya mau pakai gaya NU lama atau gaya NU baru?”

“Lhooh ? Kalau gaya NU lama bagaimana, dan kalau gaya NU baru bagaimana ?” tanya Pak Harto heran.

“Kalau gaya NU lama, tarawihnya 23 rakaat. Tapi gaya NU baru, diskon 60 persen ( maksudnya, 11 rakaat )!”

Pak Harto cuma tertawa, dan karena tidak terlalu paham. Ia-pun nyeletuk, “Iya deh. Diskon 60 persen pun enggak apa-apa.”

“Tarawih diskon” menjadi 11 rakaat itu adalah taraweh gaya Muhammadiyah. Karena keluarga Pak Harto sendiri disebut orang “hidup dengan gaya Muhammadiyah tapi mati dengan cara NU”. Sebab, Pak Harto sendiri pernah mengaku bahwa semasa sekolah di Yogyakarta belajar di SMP Muhammadiyah (jadi berakidah Muhammadiyah), tapi ketika istrinya meninggal, rumahnya di Cendana sibuk dengan acara tahlilan (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan seterusnya), dan ini gayanya NU.

Jadi kalau Gus Dur menawarkan tarawih diskon 11 rakaat, Pak Harto dengan senang hati menerima saja.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: