FADILAH DAN FAEDAH

7 responses

28 09 2009
Anshoru Ahlussunnah

SYARAT DITERIMANYA SUATU AMAL

Pada hakikatnya syarat diterimanya amal yang dilakukan oleh seorang muslim ada dua, yaitu :

1. Ikhlas dan
2. Sesuai sunnah Rasulullah

Syaikhul Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Al-Fawaa’id” mengatakan bahwa :

“Amal ibadah tanpa Ikhlas dan Tanpa Mencontoh Rasululloh bagaikan seorang musafir yang mengisi kopernya dengan butir-butir pasir tiada guna yang memberatkannya”.

Al-Allamah Fudhail bin Iyadh berkata : “Amal yang terbaik adalah yang paling ikhlas dan paling benar menurut syari’at.”

Dan beliau ditanya yang dimaksud dengan amal yang paling ikhlas dan paling benar, beliau menjawab : “Perbuatan yang ikhlas tapi tidak benar tidak akan diterima, dan jika amalan benar tapi tidak ikhlas maka amalannya juga tidak akan diterima. Amalan yang diterima ialah yang dilakukan karena Alloh Ta’ala dan yang benar adalah yang sesuai dengan sunnah Rasulullah.”

Syaikh Muhammad Jamil Zainu ketika ditanya mengenai syarat-syarat bisa diterimanya suatu amal dalam kitabnya “Al-Aqidah Islamiyah”, beliau menjawab :

“Syarat-syarat amal bisa diterima adalah :

1. Iman dan Bertauhid

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal” [QS Al Kahfi: 107]

Sabda Rasulullah : “Katakanlah : Aku beriman kepada Allah, kemudian tetaplah engkau (dengan iman itu).” [HR Muslim].

2. Tidak berbuat syirik

Allah berfirman : ”Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang lalim”. [QS Yunus: 106]

Allah berfirman : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [QS: Az Zumar: 65]

3. Ikhlas yaitu beramal karena mengharapkan ridho Alloh, bukan karena riya’ atau pamrih

Allah berfirman : “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” [QS Az Zumar: 2]

4. Cara pelaksanaannya sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah.

Allah berfirman : “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. “ [QS Al Hasyr: 7]

Sabda Rasulullah: “Barangsiapa beramal bukan berdasarkan perintah kami (contoh/sunnah kami) maka amalannya itu tertolak (tidak diterima Alloh Subhanahu wa Ta’ala)” [HR Bukhari no.2697, Muslim no.1718, dan Ahmad 6/73, 240, 270]

Syarat amal dengan Iman Tauhid dan Tidak berbuat syirik adalah sebagai suatu penegasan, karena sesungguhnya tanpa dijelaskan hal tersebut mutlak bahwa setiap amalan tanpa ada keimanan kepada Allohu Ta’ala maka akan tertolak, dan mutlak pula setiap amalan namun disertai atau dibarengi dengan perbuatan syirik pasti akan tertolak pula.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, bahwa permasalahan Aqidah (iman) dan menyembah hanya kepada Alloh Ta’ala (tauhid) adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam agama Islam dan sebagai pilar-pilar Tauhid. Sehingga suatu kaum yang telah disampaikan ajaran Islam ataupun hidup diantara kaum muslim, berarti secara otomatis meliputi pula hakikat agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah yang telah diajarkan secara jelas dan kaum tersebut tidak bisa meng-klaim bahwa mereka tidak mengetahui.

Syarat amal dengan Ikhlas dan Sesuai Sunnah Rasululloh adalah salah satu prinsip agung dari prinsip-prinsip Islam yang tidak dimiliki oleh agama manapun, dan merupakan parameter amal perbuatan yang terlihat.

Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali, bahwa seluruh amal perbuatan yang tidak dimaksudkan untuk mencari keridhaan Alloh Ta’ala maka pelakunya tidak mendapatkan pahala, maka demikian pula halnya segala amal perbuatan yang tidak atas dasar perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya juga tertolak dari pelakunya. Siapa saja yang menciptkan hal-hal baru dalam agama yang tidak dicontohkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka bukanlah termasuk perkara agama sedikitpun. Jadi barangsiapa amal perbuatannya keluar dari syari’at yang dicontohkan dan tidak terikat dengannya, maka tertolak.

Jadi sangat disayangkan sekali banyak ummat Islam ini yang mudah terlena dengan pemahaman akal dan perbuatan kebanyakan orang dengan mengharapkan bahwa menurut mereka suatu amal ini adalah tujuannya kebaikan. Tapi mereka mengukur dengan parameter akal dan hawa nafsu, sedangkan parameternya sesungguhnya mereka abaikan bahkan ditinggalkan.

Contoh mudah berapa banyak mereka melakukan amal hanya dengan prasangka (dzhon) belaka, seperti halnya merayakan peringatan Maulid Nabi bahwa itu adalah suatu kebaikan, tidak sedikit biaya, waktu, dan tenaga mereka curahkan untuk mensukseskan acara tersebut, tetapi sangat sedikit yang mau berfikir dan memalingkan kepada hadist : “Barangsiapa beramal bukan berdasarkan perintah kami (contoh/sunnah kami) maka amalannya itu tertolak”, sehingga mereka bisa mengukur dan memiliki parameter, apakah amal yang mereka lakukan itu akan menjadi tertolak atau tidak ?

Oleh karena itu Umar bin Khattab berkata dalam do’anya :

“Allohummaj’al ‘amalii kullahu shoolihaan, waj’alhu liwaj hika khoolison, wa laa taj’ali ahadin fiihi syai’an”. Artinya : Ya Alloh jadikan amalku semuanya shalih dan ikhlas karena mencari ridha-Mu dan jadikan di dalamnya maksud yang lain.”

Inilah hakikat perbuatan amal dalam agama Islam, yaitu barangsiapa yang enggan menyerahkan diri kepada Alloh Ta’ala (ikhlas) maka ia termasuk orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Nya, sedangkan barangsiapa yang enggan mengikuti sunnah Rasululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam dan mengada-adakan suatu amalan yang tidak pernah dicontohkan oleh beliau, maka ia termasuk orang yang telah berbuat bid’ah.

Insya Allohu ta’ala nasehat ini berguna buat ana dan antum sekalian….

Maraji’ :

1. “Al-Fawaaid”, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, terjemahan “Mutiara Faedah”, terbitan Pustaka Al-Kautsar.
2. “Fatwaa fii Attaah wal Bai’at”, oleh Syaikhul Islam Ibnul Taimiyah, terjemahan “Risalah Bai’at”, terbitan Pustaka At-Tauhid
3. “Al-Aqidah Al-Islamiyah”, oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, terbitan Cooperative Office for Call and Guidance, PO Box 20824 Riyadh.
4. “Majmoo’ Fataawa wa Maqaalaat Mutnawwi’ah li Samaahat” vol. 7, p. 132, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, artikel dari milis AsSalafi.
5. “Jami’ul Ulum wal Hikam”, oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali, terjemahan “Panduan Ilmu dan Hikmah”, terbitan Darul Falah.

20 12 2011
Sam Gun

innamal ‘amalu binniyat.

13 02 2012
Muhammad Insan Kamil.,ST

Yth;
Anshoru Ahlusunnah
Di-
Tempat.

Saya menghimbau kepada Bapak yang terhormat ini, bahwasanya Maulid Nabi itu adalah peringatan untuk mengenang kembali perjuangan Sayyidina Rasullullah SAW., karena ketika itu tentara muslim berjuang melawan tentara kafir dibawah pimpinan Sholahuddin Al-Ayyubi semangatnya mulai kendur. Maka dengan semangat itulah, tentara muslim yang hampir kehilangan semangat…memenangkan pertempuran melawan tentara kafir.

Dan saya merasa aneh, dengan komentar Bapak yang satu ini, bahwa maulid nabi mengeluarkan biaya yang tidak sedikit alias BUANYAKKKKKK, saya geli sekali….takut banget miskin…Bapak yang terhormat., di dalam acara maulid ini., ada aja jalan yang tentunya Allah berikan, melalui donaturkah atau juga umat Islam sendiri..yang tentunya orang Islam yang ridho mengeluarkan rizkinya untuk Peringatan Maulid Nabinya sendiri, bahkan saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa orang yang bersedekah tidak akan mungkin menjadi MISKIN, baik miskin hati ataupun miskin harta, dan satu yang paling diingat bahwa dalam Acara Maulid Nabi Junjungan kita baginda Rasullullah SAW tujuannya hanya untuk mempertebal iman dan kecintaannya kepada SAYYIDINA Rasulullah SAW.

Mohon maaf sekali lagi untuk Bapak yang satu ini, saya harap artikel saya ini tidak menyakiti hati Bapak, biarlah kami-kami ini apabila peringatan Maulid ini datang lalu kami merayakannya, dan jika itu dosa ataupun BID’AH yang biasa didengungkan oleh (konon kata yang punya cerita) Anda-anda ini sebagai ahli SUNNAH, maka biarlah dosa ini kami yang tanggung, karena kami cinta pada acara MAULID NABI MUHAMMAD SAW.

18 05 2013
syams'uri

Mengaku baik amalan sendiri dan mengaku semuanya itu sunnah Rosulullah itu sudah biasa bagi ummat yg takabbur dan sok suci dari bid’ah karena janji2 fadilah amalannya sendiri yg juga belum jelas landasan hadist shahihnya dari Rosulullah . Naudzubillah bila semua janji dan fadilah dari yang namanya shalawat fatih itu hanyalah kicauan dari dari orang yang ngaku2 waliullah padahal mereka hanyalah waliusysyetan. Karena jika memang waliullah pasti takkan menyebarkan sesuatu yang sesat dan menyesatkan sepert fadilah dan keutamaan shalawat fatih yang anda banggakan .

21 05 2013
Redhy

Wahaby paling doyan ngobral dalil untuk mencela saudaranya yg muslim yg ga sealiran dengan mereka. Kayaknya cuman wahaby doang yg berhak memasuki syurga hehehehe.

25 03 2014
Nur Vidya

Sayangnya untuk menentukan amalan tertentu dari nabi asli atau bukan masingmasing orang berbeda, mereka saling mengaku yang paling benar dan menuduh yg lain salah. Walhasil kesombongan diri yg diketedepankan, seperti tulisan diatas. Heheheheh..ngaku diri paling suci,benar,pinter,

24 04 2014
Faidurrokhman T

Islam itu Cinta Damai, Jangan jadi kan Perbedaan menjadi Perpecahan.
Allah & Rosul Pasti tidak menyukai perpecahan.
yg mau mengadakan Maulid Monggo….
yg nggak mau Monggo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: