KHAZANAH TIJANIYAH

Berziarah ke Fez, Kota Spiritual

KOMPAS/MUSTHAFA ABD RAHMAN
Salah satu sudut kota Fez menjadi tempat penjualan suvenir hingga pakaian ala Maroko maupun busana modern.
Sabtu, 14 Juni 2008 | 03:00 WIB

Musthafa Abd Rahman

Senin pagi, 17 Maret 2008 di Maroko. Pagi itu tepat pukul 08.15, kereta api dari Casablanca mulai bergerak ke arah utara menuju kota Fez. Saat itu pula, terasa impian telah tercapai untuk dapat berziarah ke kota Fez, salah satu kota tertua di dunia Islam yang sudah berusia 12 abad.

Kota Fez lebih dikenal sebagai kota spiritual dan budaya di Maroko. Kota Fez dibangun oleh Raja Idris I pada tahun 789 Masehi. Kemudian putranya, Idris II, melanjutkan pembangunan kota hingga tahun 810 Masehi.

Menyebut kota Fez tentu ingatan langsung mengarah kepada Masjid dan Universitas Kairouyine yang berada di tengah kota tersebut. Yahya ibn Muhammad membangun Masjid Kairouyine dan kemudian Universitas Kairouyine pada tahun 859.

Masjid dan Universitas Kairouyine itulah yang membuat kota Fez populer sebagai kota spiritual. Masjid dan Universitas Kairouyine menjadi tujuan menuntut ilmu mereka dari mancanegara, baik dari dunia Islam maupun Eropa (pada masa kejayaan Islam).

Kapasitas kota Fez pun setara dengan kota Cairo-Mesir dan Tunis-Tunisia. Cairo memiliki Masjid dan Universitas Al Azhar dan Tunis memiliki Masjid dan Universitas Zaitunah yang menjadi tujuan menuntut ilmu agama, termasuk para mahasiswa dan pelajar dari Indonesia.

Kota Fez semakin kuat warna spiritualnya karena juga terdapat Mausoleum pendiri Tarekat Tijaniyah, yakni Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al Mukhtar at Tijani (1737-1815).

Tarekat Tijaniyah mempunyai jutaan pengikut di seantero dunia Islam, termasuk banyak juga pengikutnya di Indonesia. Ribuan penziarah mengunjungi kota Fez untuk mencari berkah di Mausoleum pendiri Tarekat Tijaniyah itu.

Perjalanan

Perjalanan dengan kereta api dari Casablanca menuju Fez ditempuh sekitar 4 jam dengan jarak sekitar 450 kilometer. Karcis kereta api sekali jalan dari Casa ke Fez 22 dollar AS atau sekitar Rp 200.000.

Rasa penasaran untuk segera melihat kota Fez lumayan terobati oleh panorama indah di kiri-kanan sepanjang perjalanan Casablanca-Fez. Pemandangan perbukitan rumput hijau di kiri-kanan sungguh menakjubkan. Ternyata banyak wilayah di Maroko yang tidak berupa gurun pasir, tapi kehijauan bak di negara tropis seperti di Indonesia.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seorang Arab Maroko menyapa. Anda mau ke mana? ”Saya mau ke Fez,” jawab Kompas. Ia langsung melanjutkan, ”Saya menduga demikian. Orang asing yang ke sini pasti ke kota Fez. Saya punya teman sopir taksi di Fez dan saya bisa kontak dia agar bisa menemani Anda keliling kota Fez,” katanya.

Stasiun

Tepat pukul 12.15, kereta api berhenti di stasiun kota Fez. Di luar stasiun, rekan orang Arab Maroko itu telah menunggu dengan membawa kertas bertuliskan nama saya. Kami langsung bersalaman dan lalu dibawa dengan taksinya keliling kota Fez. Ia langsung menceritakan bahwa kota Fez terdiri dari dua bagian, yaitu kota baru dan kota lama.

”Kita sekarang sedang menuju ke kota baru. Lihat saja dulu kota baru ini karena di kota baru ini kita bisa cukup lewat saja. Tapi di kota lama, butuh waktu lebih lama karena harus mengunjungi banyak tempat bersejarah,” jelas dia.

Hanya beberapa saat saja, kota baru Fez sudah dikelilingi. Taksi pun segera meluncur ke arah kota lama Fez. Di tengah antara kota Fez baru dan Fez lama, sang sopir taksi tak lupa menjelaskan. ”Di sini ada permukiman Yahudi yang dikenal dengan nama distrik Mellah, tetapi sekarang mereka sudah banyak pindah ke Casablanca.” Distrik Mellah terletak persis di samping istana raja Maroko di kota Fez. ”Saya akan bawa Anda ke sebuah bukit agar bisa melihat kota Fez lama dari atas,” kata sang sopir taksi itu lagi.

Dari atas bukit, kota Fez lama tampak bak hamparan kawasan eksklusif dengan rumah-rumah atau bangunan yang berimpit-impitan. Seperti halnya kota-kota Arab lama, kota Fez lama juga dikelilingi tembok tinggi (tingginya sekitar 5 meter) dengan memiliki beberapa pintu masuk. Kota Fez lama yang juga dikenal dengan nama Fez Al Bali hanya bisa dimasuki dengan jalan kaki atau naik sepeda. Kendaraan beroda empat tidak bisa masuk kota Fez lama. Di depan pintu masuk kota Fez lama, sudah menunggu seorang guide yang mengaku bernama Abdel Hamid.

Abdel Hamid lalu membawa Kompas masuk ke dalam kota Fez lama dengan menyelusuri jalan-jalan sempit yang berliku-liku dengan lebar hanya 1-2 meter. ”Di dalam kota Fez lama ini, ada 9.000 jalan sempit berliku-liku yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain di dalam kota. Kota Fez lama ini dihuni sekitar 700.000 jiwa. Jadi, kota ini sangat padat,” ungkap Abdel Hamid.

Ia menjelaskan pula, sejak 1.000 tahun lalu, wujud kota Fez seperti ini, tidak berubah sama sekali. Sungguh menakjubkan melihat di dalam kota Fez lama itu. Sebuah sistem kehidupan mandiri dan eksklusif dengan infrastruktur kota yang lengkap, masih terjaga rapi selama 12 abad. Di dalam kota Fez lama, terdapat toko-toko, sekolah-sekolah agama, rumah-rumah penduduk, restoran-restoran yang berhadap-hadapan dengan hanya dipisah jalan sempit selebar sekitar 2 meter saja.

Keluar kota

Penduduk kota Fez lama tidak perlu lagi keluar kota karena semua kebutuhan hidup dasar telah terpenuhi di dalam kota lama, semisal kebutuhan pangan, pendidikan, klinik kesehatan, serta masjid-masjid yang bertebaran di dalam kota lama.

Berada di dalam kota Fez lama tidak berlebihan jika seakan merasakan hidup seperti suasana 12 abad lampau. Sering kali jalan-jalan sempit yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain di dalam kota Fez lama remang-remang agak gelap.

Tentu tak melupakan ziarah ke Masjid dan Universitas Kairouyine yang legendaris dan terletak di tengah kota lama. Saat ini, Universitas Kairouyine tetap menjadi pusat menuntut ilmu agama para pelajar dari dunia Islam, termasuk Indonesia. Menurut data KBRI Rabat, mahasiswa Indonesia yang belajar di Maroko sebanyak 40 mahasiswa, termasuk di antaranya yang belajar di Universitas Kairouyine.

Setelah mengunjungi Masjid dan Universitas Kairouyine, lalu melanjutkan ziarah ke Mausoleum pendiri Tarekat Tijaniyah, yakni Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al Mukhtar at Tijani. ”Anda dari Indonesia, ya? Banyak orang Indonesia datang ke sini,” kata salah seorang penjaga Mausoleum pendiri Tarekat Tijaniyah itu. Ia lalu menemani Kompas masuk ke dalam Mausoleum sambil menjelaskan tempat-tempat yang ada di dalamnya. Hanya beberapa langkah kaki masuk ke dalam Mausoleum, sudah terdengar suara alunan ayat-ayat suci Al Quran yang dibaca oleh para peziarah.

”Di sini pasti ada orang dari mancanegara, dari Afrika, Asia, atau negara Arab lain yang tinggal berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di dalam Mausoleum untuk mencari barakah,” katanya.

Terbesar

Fez kini merupakan kota ketiga terbesar di Maroko, setelah Casablanca dan Rabat, dengan penduduk 946.815 jiwa (dalam sensus tahun 2004). Fez juga disebut satu dari empat ibu kota monarki di Maroko, selain Marrakesh, Meknes, dan Rabat. Pasalnya, hampir semua monarki yang berkuasa di Maroko selalu menjadikan kota Fez sebagai ibu kotanya. Pada masa dinasti Almohad (1130-1269), kota Fez merupakan kota terbesar di dunia, yakni persisnya dari tahun 1170 hingga 1180. Fez juga saat itu dikenal sebagai pusat kota ilmu pengetahuan dan keagamaan, di mana kaum Muslim dan Kristen dari Eropa datang ke Fez untuk menimba ilmu. Pada masa dinasti Marinid (1269-1420) dan masa kerajaan Fez (1420-1554) dikenal masa tumpleknya imigran Muslim dari Spanyol ke kota Fez, menyusul jatuhnya kejatuhan Spanyol pada tahun 1492.

Warga Arab dari Tunisia juga pernah berduyun-duyun datang dan menetap di kota Fez, yang membuat kota tersebut semakin berkarakteristik Arab dan muncul distrik Adwat Al Andalus dan Adwat al-Qarawiyyin. Fez lalu di bawah Dinasti Saadi sejak 1554 hingga 1649. Sejak tahun 1649, Fez menjadi pusat negeri Maroko dan sebagai pusat perdagangan kaum Berber di Afrika Utara. Hingga abad ke-19 Masehi, hanya kota Fez yang dikenal sebagai pusat produksi tarboosh (topi khas Arab), sebelum kemudian juga dibuat di Perancis dan Turki.

Kota Fez menjadi wilayah independen yang dipimpin oleh Raja Yazid (1790-1792) dan Abu’r Rabi Sulayman (1792-1795). Raja tersebut kemudian ditaklukkan oleh Maroko. Pada tahun 1819-1821, kota Fez menjadi bagian dari wilayah kaum pemberontak yang dipimpin oleh Ibrahim ibn Yazid. Pada tahun 1830, kota Fez kembali jatuh ke tangan kaum pemberontak yang dipimpin Muhammad ibn Tayyib. Pada tahun 1912-1956, kota Fez bagian dari wilayah Maroko Spanyol.

Fez dikenal sebagai ibu kota Maroko dalam sepanjang masanya hingga tahun 1912. Pada tahun 1912, ketika Maroko di bawah pendudukan Perancis, maka dipilih Rabat sebagai ibu kota baru Maroko hingga saat ini. Namun, Fez tetap bertahan sebagai kota spiritual dan budaya di Maroko hingga hari ini.

2 responses

13 02 2012
Muhammad Insan Kamil.,ST

Bapak Mustafa Abd. Rahman yang di rahmati Allah SAW.,

Rasanya saya bangga dengan cerita Bapak, pengen rasanya saya pergi ke kota Fez, jika Allah berkehendak, sebagai Ikhwan Thoriqoh Tijani, kota Fez adalah kota Impian ke-2 setelah Mekah.

Do’aini ya Pak… (he..he..he..)

29 05 2012
Ahmad zuhri

mudah mudahan aku semakin bisa untuk meningkatkan ibadada,Alhamdulillah ya Allah aku mendapatkan link dan blog semoga bisa mengamamalkan ilmu Mu dan semakin dekat kepadaMU lewat thoriqot yang aku pilih dan amalkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: